Social Icons

Minggu, 11 Maret 2012

“Underground”: Suatu Komunitas Termajinalkan

Sudah menjadi suatu kenyataan bahwa komunitas underground selalu menjadi suatu momok yang menakutkan untuk sebagian besar masyarakat Indonesia, padahal masyarakat hanya mengetahui sebagian kecil tentang komunitas tersebut. Ironisnya pengetahuan yang kecil tersebut ternyata tentang hal-hal negatif dan dianggap sesuatu yang melenceng dari norma serta tatanan hidup dalam masyarakat. Mungkin dikarenakan pemahaman yang sedikit inilah yang membuat komunitas-komunitas underground selalu menjadi suatu phobia di tengah-tengah masyarakat.
Memang umumnya komunitas tersebut selalu berkumpul di emperan toko dan selalu bergerombol, namun mereka mempunyai alasan yang cukup kuat yang menyebabkan mereka seperti itu, serta mereka memilih jalur bawah tanah untuk melakukan pergerakan mereka dan tidak ingin menjadi komunitas yang formal.
Tapi tak bisa dipungkiri di balik kebaikan mereka, komunitas underground pun mempunyai side effect yang tidak baik pula. Sebagian komunitas, seperti skinhead, punk street, atau Hardcore mempunyai budaya yang negatif serta sedikit menyimpang dari norma-norma yang telah tertanam di masyarakat sehingga menyebabkan bertambahlah paranoa terhadap meraka di masyarakat.
Untuk memperbaiki citra komunitas yang mempunyai niat baik, maka saya mengangkat tema dualisme komunitas underground. Setidaknya untuk menambah sedikit pengetahuan kita tentang pergerakan bawah tanah yang berkembang di kota-kota besar. Namun tidak semua komunitas akan saya ketengahkan mungkin hanya beberapa komunitas yang saya rasa cukup menonjol dalam memperbaiki atau memperburuk citra komunitas termaginalkan tersebut.
Gambaran Umum Komunitas Underground
Komunitas underground merupakan suatu komunitas yang melakukan pergerakan secara diam-diam atau tidak diketahui banyak orang. Mereka menyebut gerakan tersebut dengan UR (Underground Resistance) dan tidak memilih jalur formal untuk mendirikan suatu perkumpulan.
Alasan mereka tidak mau menjadi suatu komunitas yang formal karena mereka merasa hal tersebut hanya merupakan birokrasi yang berbelit-belit (Birokrasi Kompleks). Terdapat suatu keyakinan dalam diri meraka yaitu jika ingin menyuarakan suara, cukup dengan beraksi dari diri sendiri dan orang-orang sekitar yang dekat. Sehingga komunitas underground lebih condong atau terlihat suatu wadah untuk kumpul atau nongkrong.
Mereka pun memilih untuk nongkrong di emperan toko pada malam hari. Hal tersebut dikarenakan banyak dari mereka merasa berkumpul di siang hari terlihat lebih menarik perhatian, terlebih mereka sadar bahwa mereka merupakan kaum yang dikesampingkan oleh masyarakat dan dianggap sebagai sesuatu yang meresahkan.
Persamaan keyakinan baik berupa hobi, gaya hidup, paham, dsb. dalam diri mereka lah yang membuat persaudaraan mereka lebih erat karena merasa sama rasa, rata dan tanpa perbedaan, terlebih terdorong dari pribadi sendiri yang secara sadar untuk masuk ke dalam komunitas tersebut tanpa paksaan.
Setelah masuk ke dalam komunitas, secara sadar maupun tidak, biasanya individu tersebut akan mengikuti pola life style dari komunitas tersebut. Hal inilah yang mungkin diresahkan masyarakat. Ketika seseorang masuk ke dalam komunitas yang kotor atau negatif.
Tetapi dalam komunitas yang negatif sekalipun tetap ada sisi positif yang timbul, walaupun kecil.
Secuil Sejarah Berdirinya Komunitas Underground di Indonesia
Tak ada catatan pasti sejak kapan komunitas underground mulai berdiri, namun ada yang menyebutkan komunitas otomotif (Motor dan Mobil) yang menjadi perintis dari komunitas undergound. Lalu merembet ke dalam banyak aspek tidak hanya sebatas hobi.
Tahun 90an Skinhead masuk dari Inggris bersamaan dengan Ska dan berkembang pesat hingga tahun 1999. Pada tahun inilah merupakan tahun keemasan bagi para Ska mania dimana di Indonesia terjadi demam Ska, yakni Ska menjadi suatu trend di kalangan remaja baik musik maupun gaya mereka menjadi suatu kiblat yang wajib dicontoh.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh major label (label rekaman yang dilindungi hak cipta-red) yang mengeksploitasi secara besar-besaran musik Ska. Namun dampak dari eksploitasi tersebut harus dibayar mahal oleh komunitas Ska. Ketika memasuki tahun 2000, golongan mereka benar-benar hancur. Banyak pendukung Ska yang berpindah haluan seperti Ska German dan Ska Inggris.
Eksploitasi yang berlebih dari major label yang membuat banyak band Ska suntikan atau lazim dikenal hanya band yang ingin tenar saja tanpa mengetahui apa idiologi ska itu sendiri, hal itu membuat golongan Ska fanatik merasa muak dan mulai pergi meninggalkan Ska dan beralih menjadi Skinhead, Punk, atau Skoinkcore (gabungan antara ska, punk oi, dan core) yang merupakan satu haluan dengan Ska.
Ketika masyarakat sudah jenuh dengan Ska, band-band suntikan tersebut satu persatu mulai hilang. Major label pun menganggap Ska sudah tidak produktif lagi dan mencampakkan Ska. Ska yang sudah ditinggalkan oleh kaum fanatik menjadi komunitas yang vakum.
Berbeda dengan Skinhead, Punk, Skoinkcore dan HC (Hardcore) mereka tetap eksis di indi label (Lebel rekaman yang membiayai sendiri produksi mereka dengan konsekwensi laba dan kerugian ditanggung sendiri) atau D.I.Y(Do It Your self, sebutan lain untuk indi label). Mereka menolak untuk dieksploitasi secara massal oleh major label. Dan memusuhi golongan mereka yang masuk ke jalur major label. Mungkin mereka takut terulang kembali tragedi tahun 2000 dimana komunitas Ska benar-benar hancur.
Tahun 90an memang tahun keemasan berdirinya komunitas Underground musik, namun pada awal tahun 2000 mulai bermunculan komunitas yang berbeda seperti PETA (Pecinta Lingkungan), Vegen (Vegetarian) dan Staraight X.
Underground yang Selalu Termarjinalkan
Sebagai manusia sepertinya sudah menjadi suatu kodratnya, jika lebih mudah menilai semua hal dari sisi buruk dan selalu mengesampingkan sisi positif, serta pola pikir negatif yang selalu curiga akan segala sesuatu yang mereka tidak pernah lakukan. Hal inilah yang terjadi di masyarakat luas. Dimana masyarakat yang melihat sekumpulan orang yang nongkrong selalu berpikiran negatif tanpa melihat lebih jauh apa yang mereka lakukan.
Menurut saya imej negatif yang terbagun dalam masyarakat luas sedikit banyak menyebabkan komunitas underground memilih UR sebagai cara mereka melakukan pergerakan.
Pergerakan dalam lingkup mereka adalah menyebarluaskan pengaruh mereka pada masyarakat, perlu diingat tanpa paksaan. Artinya siapa saja boleh bergabung dengan mereka dengan catatan satu paham dan satu tujuan. Sebagai contoh Skinhead mempunyai tujuan untuk membangun sebuah komunitas tempat berbagi, berkumpul, bercanda selalu, ceria bersama. Kemudian PETA yang menginginkan bumi tetap bersih. Lalu komunitas Punk Street dan Punk Leftis mencita-citakan agar Indonesia tetap damai, tak ada aksi terror, dan menentang sengala bentuk yang berbau Rasis.
Betapa ironis karena sebagian besar komunitas underground seperti Skinhead, Punk ‘n Skin, Punk dsb. dengan lantang menyuarakan satu bumi tanpa perbedaan, justru merekalah yang dianggap berbeda oleh masyarakat, artinya masyarakat merasiskan komunitas yang anti rasis. Hanya karena pakaian mereka yang urakan.
Dualisme Komunitas Underground
Terdapat sesuatu yang menarik dalam komunitas-komunitas underground yakni dualisme yang ada di dalam diri mereka. Di satu sisi mereka merupakan orang-orang yang berdandan urakan, namun hal tersebut merupakan suatu bentuk dari pengekspresian diri terhadap anti kemapanan serta sebagai identitas diri komunitas mereka, seperti Skinhead yang pada awalnya merupakan komunitas Buruh, sehingga sampai sekarang Skinhead identik dengan bir, sepakbola, serta sepatu boot.
Suatu hal yang disayangkan memang, karena mereka menyerap secara mentah kebudayaan Skinhead yang negatif seperti meminum bir yang merupakan suatu hal yang tabu untuk masyarakat Timur tapi merupakan hal yang lumrah untuk masyarakat Eropa. Padahal mereka mempunyai daya kreatifitas yang tinggi, seperti menyuarakan kekecewaan mereka lewat pamflet, buletin, gambar atau lagu yang bertema sosial.
Walaupun lagu, pamflet atau gambar mereka bertema sosial (biasanya tentang pemerintah yang tidak peduli rakyat kecil) mereka dapat meraciknya dengan sesuatu hal yang membuat kekecewaan tersebut menjadi suatu optimisme. Namun sungguh sangat sayang jika kreatifitas tersebut harus ternodai dengan kebudayaan yang diyakini sebagai identitas diri mereka.
Seperti halnya Skinhead. Hardcore, Punk leftis (Punk dengan aliran kiri), serta Punk ‘n Skin, merupakan komunitas yang mempunyai budaya yang sama, yakni alkohol, hidup di jalanan serta anti kemapanan, hal-hal tersebut merupakan sesuatu yang pokok serta merupakan identitas diri mereka. Mereka sama-sama menyuarakan dan menginginkan satu bumi tanpa perbedaan. Hal ini yang membuat mereka terlihat sebagai golongan kiri atau komunis.
Dari komunitas underground yang terkesan kotor dan selalu hidup tanpa memikirkan norma-norma yang telah tertanam di tengah masyarakat. Tenyata terjadi suatu kenyataan yang unik, yakni mulai timbulnya komunitas-komunitas yang bersih, komunitas ini bermunculan karena merasa muak oleh budaya hidup masyarakat luas yang mereka anggap suatu hal yang salah.
PETA merupakan suatu komunitas yang mencita-citakan lingkungan yang bersih, kemudian Vege timbul karena merasa menjalani pola hidup sebagai Vegetarian merupakan salah satu cara untuk memperpanjang umur mereka, serta merupakan reaksi ekstrim dari kekesalan mereka terhadap fast food yang mereka percayai adalah setan pembantai unggas dalam skala besar. Sehingga terbentuk suatu doktrin tersendiri yakni anti terhadap fast food bahkan Mc Donals dianggap pembantai unggas terbesar. Lalu Staraight X merupakan komunitas bersih, yang terdiri dari orang-orang yang anti rokok, alkohol, drugs, dsb. walaupun dandananan mereka urakan dan terkesan sebagai komunitas yang buruk atau negatif.
Di kota Bogor, terjadi suatu hal yang menarik dimana komunitas-komunitas underground dari berbagai golongan dan faham ini bersatu untuk menghimpun dana yang kemudian dibagi-bagikan kepada para anak jalanan, dan diberi tema “Peduli Anak Jalanan”. Acara ini sebagai bentuk solidaritas mereka terhadap orang-orang yang juga merasakan hidup di jalanan
Setelah mengetahui kebaikan serta keburukan dari komunitas underground yang mungkin merupakan komunitas-komunitas terbesar, apakah masih merupakan langkah yang bijaksana jika kita tetap memandang mereka sebagai sesuatu yang menakutkan, urakan, barbar, vandal bahkan anarkis?
Namun pemahaman Anarki dalam versi mereka berbeda dengan pemahaman dalam versi masyarakat sehingga mereka melabelkan diri mereka sebagai suatu yang anarki. Tapi arti dari anarki menurut mereka adalah anarki bukan barbar, anarki bukanlah vandal anarki adalah persamaan hak dan tanpa paksaan. Berbeda dengan pemahaman masyarakat luas yang menganggap anarki sebagai kerusuhan dan biang kekerasan.
Walaupun sebagian dari mereka masih memegang budaya yang negatif namun merupakan tugas kita untuk meluruskannya, contoh saja budaya mengkonsumsi alkohol jika kita dan pemerintah bisa menutup pabrik alkohol sehingga menghentikan peredaran alkohol di masyarakat bukankah budaya tersebut akan hilang dengan sendirinya.
Tapi dapat diambil suatu kesimpulan yakni mereka bukanlah orang yang munafik setidaknya dalam konteks budaya mengkonsumsi alkohol. Karena mereka secara terang-terangan menegaskan bahwa mereka adalah alkoholic. Berbeda dengan kenyataan yang ada dimasyarakat, dimana para peminum mengkonsumsi alkohol lalu berkata pada masyarakat luas mereka adalah orang yang “bersih” bukankah hal tersebut merupakan sesuatu yang munafik?.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Amazon Instrument

Sample Text